NARAKSARA.COM, Nunukan – Menanam pohon bukan sekadar menumbuhkan hijau di tanah,tetapi juga menanam harapan bagi masa depan.Semangat itulah yang dibawa Partai Demokrat bersama masyarakat Desa Tanjung Aru melalui kegiatan penanaman mangrove di kawasan pesisir Tanjung Aru, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan Laskar Biru Indonesia Asri, sebuah rangkaian kegiatan kepedulian terhadap lingkungan yang dilaksanakan serentak di berbagai daerah di Indonesia setiap Jumat, mulai 14 Juli hingga 28 Agustus 2026.
Di Tanjung Aru, gerakan tersebut diwujudkan melalui penanaman mangrove sebanyak 110 pohon sebagai upaya memperkuat benteng alami pesisir sekaligus mengajak masyarakat untuk semakin peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Momentum ini sekaligus menjadi bagian dari semangat menyambut dan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Demokrat yang tidak hanya diisi dengan kegiatan politik, tetapi juga diarahkan pada kegiatan sosial dan kepedulian terhadap masyarakat serta lingkungan.
Di bawah langit pesisir Tanjung Aru, Sebatik bibit-bibit mangrove ditanam satu per satu. Setiap bibit menjadi simbol sederhana dari sebuah pesan besar’menjaga lingkungan hari ini berarti menjaga ruang hidup generasi yang akan datang.
Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat Desa Tanjung Aru, pemerintah desa, instansi terkait, Partai Demokrat, Srikandi Demokrat, Laskar Biru Indonesia Asri serta para relawan.
Turut hadir Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Nunukan H. Andi Mariyati, Sekretaris DPC Partai Demokrat Gat Khaleeb, S.Pd., Anggota DPRD Nunukan Dapil Sebatik Ramsah, jajaran Srikandi Demokrat, Ketua PAC Partai Demokrat Sebatik serta masyarakat setempat.
Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Nunukan,H.Andi Mariyati, mengatakan Tanjung Aru memiliki kekayaan pesisir yang bukan hanya bernilai secara ekologis, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
Namun, kawasan tersebut juga menghadapi ancaman abrasi dan kerusakan ekosistem mangrove yang perlu mendapat perhatian bersama.
“Kita tahu bersama, Desa Tanjung Aru berada di pesisir.Keindahan laut dan garis pantai adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Namun kita juga menyadari, kerusakan hutan bakau telah membuat tanah kita terkikis, air pasang makin sering masuk ke permukiman dan tempat hidup ikan serta hewan laut berkurang,” ujar Andi Mariyati.
Menurutnya, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah.Diperlukan keterlibatan masyarakat dan seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan kawasan pesisir. Karena itu, penanaman mangrove menjadi langkah nyata yang diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Mangrove bukan sekadar pohon biasa.Ia adalah benteng alami yang dapat membantu menahan abrasi dan gelombang besar,menyerap karbon,serta menjadi tempat berkembangnya berbagai ekosistem laut,” jelasnya.
Gerakan tersebut membawa semangat untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. Di wilayah pesisir seperti Tanjung Aru, semangat itu diterjemahkan melalui rehabilitasi mangrove.
Mangrove memiliki fungsi penting bagi kawasan pesisir.Selain membantu meredam energi gelombang dan mengurangi risiko abrasi,ekosistem mangrove juga menjadi tempat hidup dan berkembang biaknya berbagai jenis biota serta memiliki peran dalam menjaga kualitas lingkungan pesisir.
Karena itu, kegiatan menanam menjadi langkah awal.Tantangan sesungguhnya adalah memastikan tanaman tersebut tetap hidup dan berkembang.
Andi Mariyati menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam.
“Kegiatan hari ini bukan pekerjaan satu orang atau satu kelompok saja. Ini adalah tanggung jawab kita semua, warga Tanjung Aru.Satu bibit yang kita tanam hari ini,jika dijaga bersama,akan tumbuh menjadi pelindung bagi anak cucu kita kelak,”katanya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar masyarakat ikut menjaga kawasan yang telah direhabilitasi. Sebab, mangrove membutuhkan waktu untuk tumbuh dan membentuk ekosistem.Tanpa pemeliharaan dan pengawasan, bibit yang ditanam berisiko tidak berkembang sebagaimana diharapkan.
Momentum HUT Partai Demokrat tahun ini juga menjadi ruang untuk memperkuat kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Penanaman mangrove di Tanjung Aru menunjukkan bahwa peringatan hari jadi partai dapat diisi dengan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Bagi warga pesisir, menjaga mangrove berarti menjaga garis pantai.Menjaga garis pantai berarti melindungi permukiman,ruang hidup,sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Andi Mariyati menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, pemerintah desa, instansi, relawan dan warga yang sudah meluangkan waktu serta tenaga.Semoga kerja sama ini terus terjalin kuat,”ujarnya.
Ia berharap kolaborasi antara masyarakat dan berbagai unsur tersebut dapat terus berlanjut,bukan hanya dalam momentum HUT Demokrat maupun rangkaian Laskar Biru Indonesia Asri,tetapi menjadi gerakan lingkungan yang tumbuh dari kesadaran masyarakat sendiri.
Sebab,tidak ada hasil instan dari sebuah bibit mangrove. Ia harus ditanam,dirawat,dijaga lalu diberi waktu untuk tumbuh hingga akar dan tajuknya kelak menjadi benteng alami pesisir.
Dari Tanjung Aru,gerakan itu dimulai dari hal sederhana: menanam satu bibit,menjaga satu kawasan dan menumbuhkan satu harapan. Semangatnya pun sejalan dengan pesan yang dibawa Laskar Biru Indonesia Asri,menanam hari ini,menjaga esok.
Karena pada akhirnya,merawat lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan alam,tetapi juga memastikan generasi berikutnya masih memiliki pesisir yang sehat, hijau dan mampu memberikan kehidupan.



